Oleh : Sudadi
Waspadalah……, waspadalah ! Tindak kriminal jelang lebaran diprediksikan akan mewarnai situasi perjalanan mudik. Momen ramai orang mudik bermotor tidak luput dari incaran tindak kriminal. Berhati-hatilah kejaha

tan bisa terjadi dimana-mana, kapan dan bisa menimpa siapa saja. Antisipasi kita adalah mengenal situasi kerawanan, memahami bentuk kejahatan dan cara mengatasi. Pengenalan modus kejahatan ini bertujuan agar pemudik tetap waspada untuk tetap siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Pola kerja penjahat profesional tak ada yang spontanitas, mereka selalu berbekal skenario dengan melibatkan kawananlebih dari satu atau dua orang. Itu semua bagian dari jurus pengelabuhan para pelaku dalam menjalankan praktek kejahatannya. Dalam memainkan sandiwaranya mereka mengatur sejumlah tahapan. Pelaku dalam melancarkan aktivitasnya ada yang menyamar layaknya pemudik, mereka juga bergerak dengan persiapan skenario yang rapi.
Untuk itu hati-hati jika menghadapi orang yang sok akrab dengan berlagak sebagai orang yang santun layaknya orang baik, tetapi sesungguhnya itu hanya sebuah peran. Kebalikannya, kadang juga bisa kita jumpai orang yang sok berlagak layaknya petugas, main tuduh, main gertak. Semua itu hanya upaya shock terapy untuk menundukkan mental kita menjadi down.
Alangkah baik jika kita juga mampu mengenali bentuk ancaman kriminalitas yang ada di jalan raya. Sebab pelaku kejahatan selalu memanfaatkan kesempatan di saat kita lengah. Ancaman yang sangat berbahaya adalah modus operandi perampasan, pencegatan, minuman beracun, gendam, penganiayaan bahkan sampai penghilangan nyawa. Disarankan jika melewati jalur sepi pemudik agar membentuk formasi rombongan, meski keberangkatannya berjalan sendirian tetap diusahakan untuk bergabung dengan yang lain.
Kita Lawan Kejahatan
Kita harus lebih cerdas dari pelaku kejahatan, persempit ruang gerak mereka agar kita tidak jadi mangsa penjahat. Kejahatan harus kita waspadai, jika ada keberanian kita lawan bersama. Penjahat jangan diberi kesempatan bergerak sedikitpun, karena mereka sudah menjadi “virus” dari penyakit masyarakat. Jangan merasa aman meski aparat kepolisian rencananya akan menurunkan duapertiga dari kekuatan yang ada. Petugas kepolisian juga mempunyai keterbatasan dalam ruang gerak, untuk itu pemudik bisa memprakarsai keamanan swakarsa, karena pelaku kejahatan biasanya memilih jalur yang tak terjangkau oleh aparat keamanan.
1. Mensiasati ban kempes
Kejahatan dengan pola pengempesan ban, modusnya menebar paku dengan tujuan agar pengendara terhambat perjalanannya. Dalam posisi demikian, tindakan awal berlakulah tenang jang menunjukkan kesan panic. Segera menepi dan tak usah menengok ban yang sudah kempes, itu hanya akan membuang waktu dan memberi peluang diketahui penjahat. Lakukan komunikasi via hape ke rombongan lain yang masih di depan atau belakang. Mintalah bantuan mencarikan posisi tukang tambal ban terdekat. Jika memungkinkan tukang tambal ban diajak serta untuk membantu tindakan sementara. Akan lebih baik jika tukang yang bersangkutan sudah siap menambal di tempat. Pada saat menunggu, berpura-puralah seperti sedang beristirahat dengan teta waspada.
2. Menghindari orang pura-pura korban kecelakaan
Model ini sangat mudah mengecoh korban. Pelaku biasanya menggunakan scenario korban kecelakaan untuk memudahkan pencegatan. Kurangi kecepatan dan coba perhatikan secara cermat, benar korban kecelakaan murni atau tidak? Yang paling aman, berpura-puralah untuk berhenti menolong, tetaoi dalam posisi untuk meloloskan diri. Benar tidaknya kejadian kecelakaan itu, tak usah diperhatikan. Jika sudah agak jauh, Anda bisa menyampaikan informasi itu kepada petugas atau masyarakat setempat untuk melakukan pengecekan.
3. Menghadapi tuduhan tabrak lari
Jika ada pelaku terkesan mengejar Anda dan menuduh telah melakukan tabrak lari. Jangan cepat panic, terus melaju kalau perlu diajak senyum. Dengan siasat bahasa tubuh, ajak mereka untuk terus bergerak menuju ke tempat lain yang ada orang. Berhentilah di tempat dimana ada orang yang bisa membantu untuk menyelesaikan. Jika mereka masih ngotot, terus lakukan pembicaraan untuk menarik perhatian orang lain berhenti. Kesempatan Anda, lakukan aksi gertak dan ganti Anda menuduh penjahat itu hanya mencari alasan. Yakinkan kepada orang yang mengrumuni saat itu bahwa Anda tak bersalah. Katakan itu hanya rekaan penjahat. Beginilah menghadapi penjahat, kita harus punya nyali.
4. Pencegatan “polisi” gadungan
Pola pencegatan model jadi “polisi” gadungan ini juga bagian skenario ulah pelaku kejahatan. Modus mereka gampang ditebak, layaknya petugas mereka seolah melakukan pemeriksaan surat kelengkapan kendaraan. Dalam pemeriksaan semua surat oke, tetapi “polisi” gadungan ini bisa saja mencari kesalahan atau pelanggaran kita. Misalnya, soal spion tidak standar, nomor polisi yang bukan asli, membawa penumpang melebihi dari ketentuan, memnawa barang bawaan yang bisa mengganggu perjalanan, pelanggaran marka, dan macam-macamlah. Singkatnya “polisi” gadungan ini berpura-pura menilang dan ujung-ujungnya Anda uang damai. Untuk mensiasatinya, perhatikan kelengkapan seragam, mulai dari kelengkapan kepangkatan, topi, tanda nama, penggunaan sepatu, potongan rambut. Apalagi jika pakaian seragam ditutup jaket, pantas untuk mencurigainya. Jika berani, tanyakan identitas yang bersangkutan atau segera lapor ke petugas terdekat, tunjukkan ciri-ciri yang bersangkutan.
6. Mengenal modus dengan ilmu gendam
Inti dasar ilmu gendam adalah memanipulasi dan mengendalikan pikiran orang lain. Tujuan negatif adalah menghilangkan kesadaran seseorang agar menjadi penurut. Tipe pelaku kejahatan ini orangnya sok akrab dan mengawali tepukan pundak. Pertahankan pikiran tetap terjaga, jika tiba-tiba terasa kantuk yang tidak wajar ada kemungkinan bahwa seseorang yang bermaksud negatif sedang melakukan “telepathic forcing”. Tetaplah tenang dan hindari pikiran kosong dan upayakan pemengambilan nafas lalu keluarkan pelan-pelan. Fokuskan pikiran untuk tetap melakukan penolakan dan berusahalah agar pikiran kita tidak terjebak dalam lingkaran efek hipnotis. Jika ada pelaku yang berhasil mempengaruhi pikiran kita, modusnya ada yang menggiring korban ke ATM untuk menguras uang Anda, menuruti permintaan uang dan yang paling mungkin meminjamkan kendaraan tanpa Anda sadari.
7. Mengenal ciri pelaku
Pengenalan ciri pelaku menjadi hal penting untuk bahan awal penyelidikan polisi dalam mengembangkan perkara. Korban sebagai pelapor harus bisa mengidentifikasi pelaku. Ciri-ciri yang bisa dikenal antara lain bentuk muka, mata, rambut, tinggi badan, logat bahasa, dan ciri khas lain. Jika pelaku kabur, tunjukkan arah, kendaraan motor atau mobil, warna, merk, nomor polisi dan ciri khas lain.
Tulisan ini tidak bermaksud memperkecil niat Anda untuk mudik, tetapi sekedar memberi gambaran situasi berbagai modus operandi tindak kriminalitas. Kebutuhan rasa aman adalah bagian dari hak asasi setiap manusia. Kejahatan tidak perlu ditakuti tetapi harus dilawan. Jalani perjalanan mudik dengan tenang, pasrah dan selalu memohon perlindunganNya. Insya perjalanan Anda akan selamat sampai tujuan. Amin.