Oleh : Sudadi
Keputusan mengendarai motor roda dua bagi sebagian besar pemudik asal Jakarta, bukan tanpa alasan. Mereka yang tergolong ekonomi bawah, mudik bermotor kini dinilai paling banyak diminati. Momentum mudik tetap akan menjadi ritual bersama untuk merayakan lebaran di kampung halaman, meski pilihan mengendarai motor bukan tanpa risiko. Fenomena mudik bermotor ini tak ada aturan yang bisa mencegah dan setiap tahun tetap akan terus bertambah. Persoalannya adalah bagaimana pemerintah menfasilitasi pemudik ini dengan lebih memperhatikan keselamatan dan kenyamanan selama dalam perjalanan tanpa mengganggu pengguna jalan lain. Inilah potret negeri kita saat ini. Apa yang menjadi alasan mereka memilih mudik dengan kendaraan bermotor, ada beberapa pertimbangan :
- Alat transportasi ini murah dan anti macet
- Waktu perjalanan tak ditentukan orang lain
- Dapat berhenti atau singgah dimana dan kapan saja
- Menimbulkan kesan tersendiri
- Dapat ditumpangi satu sampai tiga orang (satu orang anak kecil)
- Langsung mencapai tujuan
- Sebagai simbol keberhasilan
Terhadap kaum mudik ini, kita patut memberi perhatian ekstra khusus. Mengingat perjalanan yang akan ditempuh sangat jauh, mencapai ratusan sampai limaratusan kilometer lebih. Kita tak mungkin bisa mencegahnya, kecuali selalu mengingatkan mereka untuk tetap disiplin dalam mematuhi tertib lalu lintas dan menjaga keselamatan diri dan untuk orang lain. Perjalanan mudik akan menghadapi banyak tantangan, karena mereka harus menyusuri puluhan kota di wilayah pantura dan jalur selatan dengan berbagai kondisi medan yang bervariasi. Kemampuan fisik dan keterampilan berkendara akan sangat berpengaruh dalam menghadapi berbagai hambatan dan rintangan di jalan raya.
Berdasar survei Dephub, pada jalur mudik tahun ini terdapat 1.097 titik rawan kemacetan, 1.633 titik rawan kecelakaan, serta 1.102 titik rawan tindakan kriminal. Titik rawan macet dan kondisi jalan rusak terdapat di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur. Dirjen Perhubungan Darat Iskandar Abubakar menuturkan, pemudik yang menggunakan angkutan jalan raya (mobil pribadi dan motor) diperkirakan mencapai 6,92 juta. Sedangkan pemudik dengan kendaraan umum diprediksi 15,79 juta jiwa.
Di Jawa Barat, titik macet berada di Pertigaan Nagrek, Pamanukan, Pertigaan Tomo, Persimpangan Sadang, pintu Tol Padalarang Barat, Persimpangan Subang, dan Loh Bener. Titik rawan macet di Jawa Tengah berada di Kutoarjo, Prembun, Gombong, Sumpyuh, dan Sukaraja.
Titik rawan macet di Jawa Timur meliputi Lamongan, Jombang, Kertosono, kawasan semburan lumpur Lapindo, dan Situbondo. Dephub akan memberlakukan sistem buka-tutup untuk daerah rawan macet dan kondisi yang jalannya rusak.
Terkait kesiapan infrastruktur, Departemen PU menjamin jalur mudik tahun ini lebih baik dan aman. Sebab, di jalan pantai utara Jawa dari Jakarta hingga Semarang dan Demak sepanjang 547 kilometer sudah ada empat lajur dan dilengkapi median jalan.
Di Semarang, telah dibangun empat lajur untuk ruas Semarang-Kaligawe-Sayung-Demak sepanjang 30 kilometer. Bahkan, Kaligawe-Batas Semarang dilayani delapan lajur sepanjang dua kilometer. Tahun lalu, sebagian jalur mudik di Jateng masih dua lajur tanpa median jalan sehingga rawan kecelakaan.
”Arus mudik tidak akan terganggu pekerjaan jembatan karena 14 buah telah selesai dikerjakan sebelum arus mudik,” terang Dirjen Bina Marga Hermanto Dardak. Untuk wilayah Surabaya, PU memperbaiki ruas Yosowilangun-Kalianak-Greges. Di kawasan ini sudah ada empat lajur dengan konstruksi beton bertulang. Demikian pula jalur alternatif kawasan semburan lumpur Lapindo, yakni Japanan-Mojosari-Krian sepanjang 23 kilometer
Sumber Mabes Polri memperkirakan, pemudik bermotor tahun ini akan mencapai 2,5 juta unit, dibanding tahun lalu ada peningkatan 18 persen. ”Tahun lalu korban meninggal dunia saat arus mudik dan arus balik mencapai 789 jiwa. Lebih dari 90 persen pengguna sepeda motor,” ujar Direktur Lalu Lintas Mabes Polri Brigjen Pol Yudi Sushariyanto dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR di Jakarta belum lama ini.
Membandingkan negara lain, peristiwa mudik dalam jumlah jutaan orang dan unit motor barangkali hanya terjadi di Indonesia. Pada saat yang sama, penduduk Ibukota Jakarta hampir separoh lebih akan akan berkurang untuk sementara. Bahkan diperkirakan 70 persen dari jumlah pemudik akan kembali ke Jawa untuk memanfaatkan liburan lebaran antara 7 sampai dengan 14 hari. Mulai dari H-7, mereka secara berangsur akan bergerak menyusuri jalur pantura hingga hari H saat lebaran. Mereka hanya berharap bisa kembali ke kampung halaman yang sudah lama dirindukan. Untuk itu mari kita doakan, semoga perjalanan pemudik ini selamat tanpa ada hambatan apapun dan dapat merayakan Idul Fitri bersama sanak saudara yang dicintainya. Amin.
salam mas Sudadi
sudah mampir ke blog ku, di Vietnam pun banyak lho orang mudik naik speda motor http://www.youtube.com/watch?v=3B84CcLB5TU
Berbahadia lah orang yang masih bisa mudik, mengunjungi sanak saudara yang masih ada.
Hati-hati, jangan ngebut, semoga selamat sampai ditujuan.
Selamat mudik.
Wisma Sakinah – Comfortable Home Stay & Guest House – A good place for your Lebaran Holiday. Jl. Kumudasmoro Barat No. 24 Semarang, phone 024 7623460.
Pls visit : http://wisma-sakinah.com