30
Agu
08

SBY MESTINYA BISA GUNAKAN BAHASA TUBUH, UNTUK HINDARI MARAH

Oleh : Sudadi

Kalau tak salah, aksi teguran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini adalah kali kedua dilakukan, setelah yang terakhir pada Sidang Kabinet Paripurna, Kamis (28/8) di Lantai II Kompleks Istana Jakarta. Kebetulan saya sempat menyaksikan tayangan berita di teve swasta. Reaksiku pertama : “Wow…, ini bisa jadi berita menarik”. Dalam tayangan itu terpancar ekspresi wajah SBY menunjukkan sikap marah sambil menudingkan tangan ke arah audience. Sungguh ini tontonan yang sangat menusuk perasaan rakyat, keterlaluan (kebangeten.bhs jawa) dan memalukan.

Saya baru ingat nasihat bijak “Jadilah Pendengar yang Baik”. Kata bijak ini rupanya tidak sampai di istana, buktinya sejumlah menteri kabinet masih bisa ngobrol di saat pemimpinnya mengurai persoalan kenegaraan yang sangat penting. Kalau SBY jengkel dan memuntahkan kemarahannya kepada para pembantu presiden itu sangat manusiawi. Menteri yang ngobrol itu seperti tak ada rasa hormat pada pemimpinnya.

Ketika tayangan itu disaksikan jutaan pemirsa ada yang spontan memberi komentar, ada yang serius membahas peristiwa itu. Bahkan diantara teman-teman terekam berbagai komentar : “Presiden Juga Manusia”, bisa marah, serius, dan ada kalanya santai. Pendapat lain, ada yang memilih memberikan pandangan berbeda. Menurut mereka, SBY harusnya bisa menahan diri, meski layak untuk melakukan teguran tetapi itu tak perlu mengekspresikan sikap marah. Alasannya, adegan itu diliput banyak media dan disaksikan oleh jutaan pemirsa. Entah setelah teguran itu, suasana rapat apakah apakah berubah menjadi kontra produktif, tegang, atau peserta semakin dalam tekanan? Bisa juga spontanitas kemarahan SBY akan menjadi peringatan bagi para pembantu presiden atau untuk yang lain. Agar mereka lebih bisa saling menghormati, apalagi dalam forum rapat resmi kepresidenan.

Bahasa Tubuh

Adegan itu nampak spontan, tetapi SBY barangkali tak menyadari hal itu. Sikap semacam bisa berpengaruh bagi sebuah pencitraan seorang presiden. Lho…, presiden koq emosional. Sebagai pempimpin, harusnya cukup mengemas isyarat dengan bahasa tubuh. Presiden saat itu cukup diam sejenak, sambil memandang dan menunggu menteri tersebut berhenti ngobrol. Jika menteri sudah tahu diri, presiden bisa menyampaikan ucapan yang sifatnya sindiran; “Terima kasih, ternyata kalian bisa diam dan masih mau memperhatikan pidato saya” Cara ini barangkali akan mengundang simpati dan menunjukan kebesaran sebagai seorang pemimpin. Bagi pelaku juga akan timbul rasa malu dan menyesali atas kekhilafan.

Para pemimpin kita bisa banyak belajar dari penampilan Presiden Soeharto. Almarhum mantan presiden di era orde baru itu masih meninggalkan kesan mendalam dalam soal yang satu ini. Presiden yang dijuluki The Smiling General terpancar aura yang sangat kuat. Kekuatan jiwa menunjukkan kematangan seseorang dalam mensikapi berbagai persoalan dan tak mudah panik.

Semua menteri di zaman orde baru sangat hafal dalam memaham berbagai model bahasa tubuh. Alkisah, Pak Harto mempunyai tradisi mengundang menteri di ruang kerja presiden secara terbatas. Entah apa yang akan dibicarakan, para menteri tidak tahu, tetapi mereka membiasakan diri untuk tak mengambil inisiatif dengan satu katapun. Mereka hanya menunggu isyarat, jika Pak Harto sudah mulai menyeruput secangkir teh itu tanda pembicaraan sudah bisa dimulai. Itupun mereka tetap diam sebelum presiden membuka pembicaraan atau menunjuk ke salah satu menteri untuk menyampaikan laporan. Kapan pembicaraan itu akan berlanjut, kapan pertemuan dianggap selesai, juga ada isyaratnya. Meski pembicaraan itu dinilai belum tuntas dan tiba-tiba Pak Harto menyeruput teh berikutnya – itu tanda jika rapat sudah harus disudahi. Para pembantu presiden, sudah tak ada yang mengintrupsi atau mengajukan pertanyaan. Karena teh terakhir sudah mengisyaratkan is over, rapat berakhir dan tak perlu dilanjutkan.

Bahasa tubuh sangat efektif untuk mengembangkan komunikasi interpersonal. Misalnya, ada seorang pemimpin, selalu senyum meski masukan bawahan kadang tak berkenan, demikian juga terhadap laporan yang ABS, dia juga tetap senyum. Sesungguhnya pempimpin yang baik selalu dapat membaca setiap karakter bawahannya. Pemimpin memang harus bisa marah, tetapi tetap harus menjaga suasana hati. (*)


3 Tanggapan ke “SBY MESTINYA BISA GUNAKAN BAHASA TUBUH, UNTUK HINDARI MARAH”


  1. September 1, 2008 pukul 9:40 am

    Presiden model kaya gini mah baiknya ga usah dipilih lagi. Talk more do Less

  2. September 1, 2008 pukul 9:46 am

    Kok tampilannya masih panjang pak?

  3. September 8, 2008 pukul 4:07 pm

    Pak, nulis rencana gubernur yang katanya mau mbabat PKL dari videotron sampe polda dong. Trus katanya,komunitas tempat anak2 nongkrong di sana juga mo dibubarkan.Gimana dong pak?
    Pak, main ke blog ku dong. Ada titipan tuh


Tinggalkan Balasan




Kategori