Semarang 16 Juli 2008,
Antrean BBM : Kasus Manajemen atau Faktor Lain ?
Antrean konsumen BBM di sejumlah SBPU wilayah sumatera, kalimantan, sulawesi dan sebagian jawa kini sudah menjadi pemandangan yang rutin. Sebagian SBPU sering tutup karena kehabisan persediaan. Konsumen mulai dihadapkan dengan ketidakpastian pelayanan pasokan BBM. Situasi ini jika dibiarkan bisa memicu berbagai persoalan baru dan kepanikan bagi konsumen ( panic buying). Anehnya kondisi ini selalu terjadi dalam situasi tertentu.
Konsumen tak butuh jawaban dengan berbagai alasan, tetapi kontiniti pasokan itu yang menjadi harapan. Pemerintah daerah dibantu aparat kepolisian agar lebih mencermati tanda-tanda kelangkaan. Benarkah setiap kelangkaan itu karena alasan faktor distribusi ? Pasokan yang semakin tidak menentu itu jelas akan merugikan banyak pihak. Tidak lancarnya transportasi akan berakibat tersendatnya arus distribusi barang dan jasa. Dampak yang lebih terasa adalah tersendatnya proses mobilisasi di berbagai sektor ekonomi.
Kita tidak bisa membiarkan “keanehan” ini terjadi, mengapa lembaga ini sudah tak memperhatikan citra korporit. Akankah kasus kelangkaan ini cukup dipandang sebagai peristiwa rutin dan biasa saja. Manajemen pertamina sangat profesional, pasti mengatahui berbagai variabel persoalan yang berhubungan distribusi BBM . Tetapi selalu dijawab bahwa keterlambatan pasokan karena faktor distribusi bukan soal persediaan. Tersedia atau tidak, fakta di lapangan sejumlah SBPU sering tutup karena persediaan habis.
Jika persoalan kelangkaan ini terus terulang akan menimbulkan rasa ketidakpercayaan. Jawaban yang dikemukakan terkesan terlambat, dan tak berarti bagi konsumen. Distribusi BBM adalah urusan sehari-hari dan pertamina juga mengerti setiap siklus tahunan yang mengakibatkan terganggunya pasokan. Itupun juga sudah diantisipasi antisipasi, tetapi mengapa pasokan BBM masih sering terlambat dan selalu terlambat ?
Ada kecenderungan bahwa persoalan keterlambatan pasokan bukan masalah manajemen, pasti ada faktor lain yang kita semua belum tahu. Dan ini bukan masalah peka atau tidak pekanya pertamina. Pasti ada pihak atau kekuatan tertentu yang secara sistematis memanfaatkan isu BBM untuk tujuan tertentu. Faktor itu bukan terletak di internal, mungkin ada kekuatan eksternal yang mempengaruhinya.
Dampak kenaikan BBM sudah menjadikan sebagian rakyat bingung, pasrah dan tak mempunyai kekuatan untuk menolak keputusan pemerintah. Persoalan kini mulai dikacaukan dengan ketidakpastian pasokan. Tuntutan menurunkan harga BBM tak akan efektif, karena jangka pendek yang kita hadapi dan memerlukan perhatian segera adalah kepastian pasokan. (sudadi)
Semoga Hak angket DPR mengenai migas benar-benar dijadikan wadah untuk mereformasi tatakelola migas kita, bukan sebagai politik dagang sapi antara DPR dan Pemerintah…. Semoga..
Cheers
rizadoang